Selasa, 30 November 2010

LOVE YOURSELF FIRST

Setiap orang ternyata berpotensi untuk menjadi 'penjara' bagi dirinya sendiri. Kapan hal itu terjadi? Saat kita mulai tidak jujur terhadap diri sendiri dan orang lain.

Saat seseorang menyangkal apa yang ia rasakan, maka saat itulah ia mulai memenjarakan dirinya sendiri. Kita cenderung begitu mudah mengekspresikan rasa senang dan gembira, namun saat menghadapi beberapa emosi tertentu seperti penyesalan, kemarahan, rasa suka pada orang lain, benci, kecewa, atau lainnya, maka ada kalanya kita menjadi orang yang begitu sulit untuk mengungkapkannya.

Jangankan mengungkapkan, kita malah cenderung meniadakan emosi-emosi itu, menganggapnya sebagai kesalahan atau dosa, lalu kemudian berusaha keras untuk menyangkal, bahkan melenyapkannya dari hati kita. Kita mulai tidak jujur, bahkan enggan mengakui bahwa emosi-emosi itu ada dalam hati kita.

Lalu, pertanyaannya sekarang, dapatkah emosi-emosi itu dipendam? Jawabnya, bisa. Namun, tidak untuk selamanya. Suatu saat emosi yang tidak diakui keberadaannya itu akan meledak keluar. Karena apa yang timbul dari hati akan meluap keluar juga.

Jika berbicara tentang emosi, maka sebenarnya tidak ada kata benar atau salah. Sebab, emosi itu tetap timbul, tetap ada, dan begitu nyata. Entah mau diterima ataupun berusaha disembunyikan tetapi tetap saja emosi itu dirasakan.

Lalu, mengapa orang takut mengakui emosi itu? Ada banyak alasan yang menjadi jawabannya, namun semua alasan itu hanya bersumber pada satu perasaan, yaitu takut atau merasa tidak aman.

"Kalau aku merasa begini, orang bisa menjauhiku..."
"Kalau dia tahu aku suka padanya, nanti dia bisa marah dan menjauh dariku, tidak mau bicara lagi denganku..."
"Kalau aku bilang unek-unekku padanya, lalu dia menyangkal dan membela diri, maka aku akan lebih sakit lagi...."
"Kalau ia tahu aku menyesal, maka ia bisa besar kepala nanti....."

Masih banyak sederet alasan lain, dan kita bisa mencium bahwa satu-satunya alasan inti mengapa seseorang tidak berani jujur (baik terhadap diri sendiri dan orang lain) adalah karena mereka takut. Takut ditolak, takut dihakimi, takut diremehkan, takut ditinggalkan, takut dipermalukan, dan lain-lain.

Namun, ternyata ketakutan itu tidak membawa kita pada kebaikan, karena kita menjadi orang yang munafik. Tidak berani menjadi diri sendiri, sehingga akhirnya kita terpenjara dalam topeng kepalsuan.

Jika sudah demikian, maka hidup ini hanya akan menjadi sebuah siksaan belaka. Sebab, apakah dapat dikatakan sebagai kebebasan jika seseorang hidup dalam bayang-bayang sakit hati, penyesalan, atau perasaan yang terpendam?!

Hanya orang yang berani menghadapi kenyataan, menghadapi diri sendiri, dan merdeka, yang akan merasa bebas dan bahagia.

Pilihan itu ada dalam tangan setiap kita. Maukah kita jujur dan menerima kehidupan yang bebas atau sebaliknya, kita memakai topeng kepalsuan dan tersiksa selamanya?! It's your choice.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar yang membangun aja yee....GBU