Kamis, 30 Desember 2010

Yang Penting Bukan Di Mana Kita

Tak peduli di mana seekor burung berada, entah di padang rumput atau dalam kurungan sangkar, ia dapat tetap bersiul bila ia mau. Saat merenungkan pemandangan burung dalam sangkar, kalimat bijak itu terlintas begitu saja dalam benak saya. Jadi, saya juga merenungkan maknanya.

Menurut yang saya dapatkan, gambaran tersebut bisa dipakai untuk mengungkapkan sebuah kebenaran tentang kebahagiaan, bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh keberadaan kita, bagaimana keadaan kita saat ini, atau pun hal-hal yang terjadi di sekitar kita, melainkan ditentukan oleh hati dan kemauan kita sendiri.

Seringkali kita meratapi nasib. Kita jadi hanyut dalam kesedihan yang rasanya seperti tiada akhir. Kita menyesali nasib kita. Kita meratapi keberadaan kita. Bahkan mungkin, kita kerap merasa kurang puas dengan apa yang sudah kita miliki.

Ibarat ilustrasi burung di atas, jika burung itu dibebaskan di padang rumput nan hijau, apakah keberadaannya pasti akan membuat ia bersiul? Belum tentu! Demikian juga sebaliknya, jika ia diletakkan dalam sangkar, apakah sangkar itu dapat membungkam keinginannya untuk bersiul? Tentu tidak!

Oleh sebab itu, maka kini saatnya bagi kita untuk berhenti meratapi diri. Saatnya bagi kita untuk bangkit dari yang namanya kesedihan dan rasa mengasihani diri sendiri. Saatnya bagi kita untuk mensyukuri apa yang sudah kita miliki dan meninggalkan rasa tidak puas. Kini saatnya untuk membuat keputusan baru. Sebab, jika kita tak mau bangkit dan mengusahakan kebahagiaan kita sendiri, lalu siapa lagi yang bisa menolong kita?

Kita memang tak dapat memilih jalan hidup kita, warna kulit kita, atau jati diri kita. Kita juga tidak dapat mengendalikan situasi yang terjadi di sekitar kita, namun entah kita hidup di padang rumput nan hijau atau dalam penjara sangkar sekalipun, kita masih bisa tetap bersiul dengan gembira bila kita mau.

Kuncinya hanya pada keputusan kita sendiri. Memang butuh kemauan dan disiplin untuk mengubah pola pikir lama. Namun, jika kita mau bertekun dan mengubah fokus, maka kita pasti bisa.

Jika dulunya kita selalu hidup dalam sakit hati, maka tinggalkan sakit hati itu. Ada sebuah ungkapan,"Orang bodoh dibunuh oleh sakit hatinya sendiri."

Maafkanlah pasangan Anda, anak Anda, kakak ipar Anda, mertua Anda, dan entah siapa lagi yang mungkin menyakiti hati Anda.

Jika kita sering menyusahkan diri karena rasa ingin tahu yang berlebihan tentang suatu hal, maka lepaskan keinginan atau rasa penasaran yang ekstrim itu. Tinggalkan kumpulan ibu-ibu yang doyan menggosip. Jangan berkecimpung di dalamnya sambil mengatakan bahwa Anda hanya akan menjadi pendengar saja.

Jika kita selalu memikirkan dan menyesali masa lalu, maka ingatlah bahwa hari kemarin berlalu semalam. Pertengkaran dengan suami atau anak yang pernah terjadi janganlah diingat-ingat lagi. Cemoohan dari keluarga suami pun sebaiknya dilupakan.

Ingat, keputusan di tangan Anda, Anda mau atau tidak untuk membuang hal-hal yang tidak berguna dan menyongsong masa depan cerah bersama orang-orang terkasih yang ada sekarang?!

Senin, 27 Desember 2010

Aku Memberi Karena...

Orang yang mengasihi pasti memberi, namun orang yang memberi belum tentu mengasihi. Anda pernah mendengar kalimat bijak itu? Kita dapat memberi sedekah pada pengemis yang bahkan kita tidak tahu namanya. Namun rasanya mustahil bila kita mengaku mengasihi seseorang namun tidak pernah memberi apa-apa padanya.

Dalam kasih ada keinginan untuk memberi. Bukan sekedar memberi, namun memberi yang terbaik sesuai kemampuan. Hal ini adalah naluri dari kasih yang sebenarnya.

Kasih yang tidak berfokus pada diri sendiri, namun lebih menyoroti kebutuhan objek kasih kita. Dalam kasih ada pengorbanan. Kasih yang sejati itu bisa menerima objek kasihnya apa adanya. Tanpa tuntutan, yang ada hanya keinginan untuk memberi.

Apa Anda merasa bahwa hal ini terdengar bodoh? Namun ini adalah kebenarannya. Coba Anda renungkan, jika Anda sebagai objeknya, apa Anda akan menolak kasih semacam itu? Tentu tidak bukan?!

Kita semua, tanpa terkecuali, baik pria, wanita, anak-anak, remaja, maupun orang tua, semuanya merindukan kasih yang demikian. Kasih yang sudi menerima kita apa adanya. Kasih yang tidak menuntut. Kasih yang memberi.

Karena dalam kasih jenis ini ada keamanan yang ditawarkan. Itulah yang jarang kita dapatkan. Kasih yang sejati menjauhkan segala kekhawatiran, khawatir ditolak, khawatir dicemooh, khawatir diolok, dan sebagainya.

Tidak dapat disangkal, bahwa hukum alam berlaku juga dalam kehidupan manusia. Jika Anda menabur jagung, tak mungkin Anda menuai kacang.

Demikian juga dengan kasih. Jika Anda menabur kasih yang suka memberi dan tulus pada orang-orang di sekitar Anda, maka dapat dipastikan Anda akan menuai hasilnya. Siapa juga yang dapat menolak orang yang memiliki kasih seindah ini? MERRY CHRISTMAS

Jumat, 24 Desember 2010

Rahasia Hidup, Siapa Mengetahuinya?!

Semua orang dalam dunia ini tak tahu pasti apa yang akan terjadi besok. Jangankan besok, apa yang akan terjadi satu jam ke depan saja kita tidak tahu. Kita mungkin bisa menebak, namun tebakan kita juga bisa salah.

Begitulah hidup, penuh dengan kejutan. Ada kejutan yang menggembirakan, namun ada pula yang terkadang mengundang air mata. Menghadapi hal yang tak pasti seperti itu, kita memang perlu memiliki mental yang selalu siap.

Mau tidak mau, kita tidak punya pilihan, kita harus bersedia mengalir bersama dengan arus kehidupan. Jika kita melawan apa yang dikatakan orang sebagai takdir, maka kita akan hancur.

Kita memang tidak dapat mencegah/ mengendalikan apa yang terjadi, namun kita bisa belajar memilih reaksi yang tepat dalam tiap situasi yang harus kita hadapi. Belajarlah memandang segala situasi dari sudut pandang positif, karena itu akan membuat hidup terasa lebih mudah. Apalagi bila saat ini Anda mempunyai anak-anak yang Anda pertanyakan masa depannya.

Sebagai ibu yang mengasihi anak-anaknya, Anda mungkin selalu dikhawatirkan dengan masa depan buah hati Anda. Apakah ia akan tumbuh menjadi orang yang baik kelak? Apakah ia akan sukses seperti ayahnya? Apakah ia akan sehat dan berumur panjang? Dan masih banyak lagi deretan pertanyaan lainnya.

Lalu, apakah Anda mendapatkan jawabannya? Tentu tidak! Itu masih rahasia dan baru akan terungkap bila waktunya tiba kelak. 

Jadi, jika demikian lalu bagaimana Anda harus menjalani hidup ini?! Nikmati saja setiap sensasi kejadian yang ada sebagai suatu pengalaman unik yang memperkaya dapat hidup Anda dan keluarga. Usahakan yang terbaik namun tetap bersiaplah untuk yang terburuk.

Selasa, 21 Desember 2010

Love Your Life

Bila seseorang melontarkan pertanyaan seperti judul di atas, apakah jawab Anda yang sejujurnya?! Apakah Anda benar-benar menikmati hidup selama ini atau Anda menunggu hingga Anda kaya, sukses, menikah, punya anak, mapan, atau cantik dulu baru Anda mengklaim kalau Anda bahagia?!

Indah tidaknya hidup ini tergantung dari cara kita memandang dan menjalaninya. Tiap orang memiliki cara dan standar yang berbeda dalam menjalani hidup ini. Kerapkali standar dan pandangan yang salah tentang hidup itulah yang menggilas kebahagiaan kita sendiri.

Lalu, bagaimana agar Anda bisa menikmati hidup bahkan di tengah kekurangan dan kelemahan sekalipun. Simak beberapa tips berikut.

Pandang masalah yang ada sebagai kesempatan dan bukannya kesulitan

Siapa yang tidak punya masalah? Semua orang punya. Namun, tak semua orang memandang masalah sebagai suatu pukulan atau hantaman yang hebat. Ada juga yang menganggapnya sebagai kesempatan untuk mengembangkan karakter plus dalam hidupnya. Ada juga yang memandangnya sebagai tantangan atau petualangan yang harus ditaklukkan.

Bagaimana kita memandang masalah itu sangat penting. Jika kita menganggapnya sebagai beban belaka, maka hidup akan terus terasa berat. Namun, bila kita menerima dan belajar untuk memecahkannya dengan cara positif, maka kita akan merasa lebih enteng.

Lakukan yang bisa Anda lakukan, jangan pikirkan hasilnya

Kerapkali seseorang enggan melangkah karena ia sudah terlebih dulu ragu dengan hasil yang akan dicapai. Ini adalah pandangan makhluk pesimis. Si pesimis tidak berani mengambil resiko, takut gagal, takut ditolak, takut rugi, takut...takut..takut...hingga akhirnya tidak melakukan apa-apa.

Tidak ada keberhasilan tanpa kegagalan. Seorang anak yang ingin lihai naik sepeda harus mengalami proses jatuh bangun yang berulang kali. Lecet, luka berdarah, dan rasa sakit yang timbul itulah yang akan membawanya kepada keahlian bermain sepeda. Jadi, mari kita belajar untuk melakukan saja apa yang bisa kita lakukan, sekecil apapun itu, tanpa terlalu pusing memikirkan bagaimana hasilnya nanti. Just do what you must to do!

Tetaplah sibuk dengan beraktivitas.

Setidaknya ada 3 aktivitas besar yang dikerjakan manusia pada umumnya selama ia hidup, yaitu tidur, kerja, dan berlibur. Tiap manusia memerlukan ketiganya. Jika waktunya bagi Anda untuk tidur, maka nikmatilah. Jika Anda sedang berlibur, maka benar-benarlah berlibur. Jika Anda sedang bekerja, maka berikan yang terbaik pula.

Meski wanita dikaruniai dengan kemampuan untuk multitasking, namun itu tidak efektif jika Anda mencampuradukkan momen istirahat dengan ketegangan bekerja.

Jangan memikirkan hal-hal yang tak mungkin Anda kontrol.

Hmm, ini benar-benar gangguan terbesar dalam kebahagiaan manusia. Boleh dibilang 90% hal dari hidup ini bisa dikontrol, sedangkan 10% nya tidak. Jika demikian lalu mengapa manusia repot-repot memikirkan 10% hal yang tak bisa dikontrol atau diubahnya. Mari kita pikirkan dan kerjakan apa yang kita bisa.

Jangan menunda tugas yang kurang menyenangkan hingga besok hari

Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari karena menunda merupakan penumpukan masalah atau sampah yang Anda bawa terus hingga hari esok. Dan ini merupakan beban yang berat, baik untuk hari ini maupun untuk besok. Jadi, selesaikan apa yang bisa Anda selesaikan hari ini...hari ini juga.

Hilangkan semua khayalan

Khayalan tidak sama dengan mimpi/ cita-cita. Khayalan tidak memiliki dasar yang kuat, sedang mimpi memiliki dasar. Khayalan lebih mengarah pada sesuatu yang terlalu muluk, sedangkan cita-cita bisa diraih asal ada kemauan. Khayalan hanya berangan-angan tanpa berbuat apa-apa, sedangkan meraih mimpi atau cita-cita membutuhkan usaha. Jadi, bedakan antara impian dan khayalan Anda. Kejarlah mimpi, namun tinggalkan khayalan.

Jangan memikirkan hal-hal yang abstrak.

Ini bisa saja berarti berandai-andai atau menyesali sesuatu yang telah terjadi. Biasanya pikiran abstrak dimulai dengan kalimat:"Jika saja aku.....", "Coba kalau tadi aku....", "Nanti jika ia datang, aku akan....", atau kalimat-kalimat pengandaian yang serupa itu. Untuk apa repot-repot memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi atau yang sudah lewat. Keduanya memiliki kesamaan, yaitu tidak nyata.

Jadi, sekarang setelah mengetahui beberapa prinsip bagaimana agar hidup lebih hidup, maka keputusan ada di tangan Anda. Mari kita cintai hidup yang kita miliki!

Sabtu, 18 Desember 2010

Teruslah Berjalan!

Setiap hari pergi ke kantor dengan naik angkot membuat saya banyak belajar tentang kehidupan jalanan. Salah satunya adalah tentang macam-macam karakter yang terdapat pada supir angkot itu sendiri.

Jika Anda sama seperti saya, selalu naik angkot saat hendak pergi ke kantor, atau setidaknya pernah naik angkot beberapa kali, maka Anda pasti tahu bahwa ada dua jenis tipe supir. Yang satu suka ngetem (alias sering berhenti untuk mencari penumpang), yang lain tidak.

Dulunya saya sering menggerutu jika si supir suka ngetem, membuat penumpang yang ada jadi rugi waktu dan merasa jengkel. Namun, jika mau ditilik dari segi tuntutan setoran mereka, maka saya jadi cukup iba juga saat melihat perjuangan mereka untuk memenuhi angkot yang kosong dengan penumpang.

Setelah naik berbagai angkot dengan macam-macam tipe supir, saya mendapat sebuah kesimpulan yang membuat saya belajar satu hal yang penting.

Sebuah angkot tidak akan pernah bisa berjalan maju dengan aman dan leluasa jika sang supir tetap menoleh ke belakang. Mobil itu juga tidak akan sampai pada tujuannya jika sang supir tetap menoleh ke belakang.

Malahan, kerapkali keberuntungan memperoleh penumpang yang berlimpah justru terjadi pada supir yang tidak terlalu ngoyo dalam mencari penumpang. Seolah-olah dengan membiarkan mobil angkotnya meluncur mulus tanpa ngetem, mereka yakin bahwa akan selalu ada penumpang di depan yang harus diangkut.

Demikian juga dengan hidup kita. Kita seumpama seperti sang supir, dan angkot itu gambaran dari hidup kita.

Kita kerap menoleh ke masa lalu, sehingga kehidupan kita tetap terikat dengan masa lalu itu. Segala kegagalan, kekecewaan, luka hati, maupun popularitas yang pernah ada di masa lalu masih kita genggam erat dan kita bawa hingga masa kini.

Jika kita tetap menoleh pada masa lalu, maka kita tidak bisa menikmati dengan maksimal hal-hal yang terjadi pada masa kini. Jika kita tetap menoleh pada masa lalu, maka kita juga tak mungkin bisa meraih masa depan dengan baik.

Jadi, mengapa tidak melepaskan dan merelakan apa yang ada di belakang. Yang sudah terjadi, terjadilah. Kita tidak bisa berbuat apapun untuk mengubah masa lalu, tapi kita masih bisa berbuat sesuatu yang berguna untuk masa kini dan masa mendatang.

Lepaskan cinta pertama Anda! Biarkan pacar Anda pergi dengan wanita itu! Jangan sesali lamaran yang pernah Anda tolak! Jangan salahkan diri terus menerus tentang kematian seorang kekasih yang meninggal karena menyumbangkan ginjalnya untuk Anda!

Mari kita tatap ke depan dan sambut apa yang ada di depan kita, sebab kita tidak pernah tahu kejutan dan kesempatan baru apa yang akan kita peroleh di depan nanti. Tetaplah maju!

Rabu, 15 Desember 2010

Cantik Ala Wanita Di Dunia

Definisi kecantikan berbeda menurut tiap orang. Mungkin bagi seseorang, cantik itu jika seseorang memiliki dada besar dan tubuh yang tinggi, namun bagi yang lain belum tentu begitu.

Kali ini kita akan menengok macam-macam definisi kecantikan menurut wanita-wanita dari berbagai negara. Mungkin ada beberapa di antaranya yang justru akan membuat kita bergidik daripada merasa cantik.

India

Sama seperti di Jepang, wanita India pun mempercantik kulit mereka melalui racikan dari bahan-bahan alami. Saat hari pernikahan tiba, pengantin wanita biasanya memakai ramuan tradisional yang terdiri dari kunyit, lemon, dan madu agar kulit mereka terlihat bersinar.

Tak hanya itu, mereka juga melengkapi busana mereka dengan perhiasan dan anting yang dipasang pada dahi. Kumkum atau tanda merah pada dahi itu pun dipercaya bisa membuat wanita India terlihat cantik.

Suku Kayan

Di perbatasan Burma dan Thailand, hiduplah suku Kayan yang memulai ritual kecantikan mereka mulai dari sejak masa kecil. Gadis Kayan mulai dipakaikan kalung (seperti cincin besar, terbuat dari kuningan) di leher mereka sejak usia 5 tahun.

Semakin gadis itu dewasa, maka jumlah kalung itu akan bertambah pula. Dan tanpa sadar, leher mereka pun otomatis jadi bertambah panjang seperti leher jerapah akibat keberadaan kalung itu.

Bagi wanita kayan, kilau dari kalung kuningan tersebut merupakan lambang status dan keeleganan seorang wanita. Tiap piece kalungnya bisa berbobot hingga 11 kg.

Jika kalung itu direnggut dari leher mereka, maka mereka tidak akan merasa cantik lagi. Maka, tak ayal jika kalung itu menjadi bagian dari wanita Kayan hingga mereka mati.

Suku Maori

Masih di perbatasan Burma dan Thailand, kali wanita Maori yang hidup di Selandia baru memiliki ritual kecantikan yang unik yaitu lewat tato. Kaum pribumi yang berasal dari keturunan Polinesia mempercayai bahwa mereka akan terlihat lebih menarik jika men-tato bibir dan dagu mereka. Semakin bibir mereka berwarna biru, maka semakin cantik dan menggairahkan seorang wanita.

Suku Karo

Sedangkan bagi wanita Karo yang bermukim di wilayah Ethiopia bagian selatan, kecantikan 'tersembunyi' jauh di bawah kulit. Saat mereka masih kecil, mereka mengizinkan para tua-tua untuk meninggalkan bekas parut di perut mereka.

Alasan utama keberadaan luka carut itu adalah untuk menarik lawan jenis saat mereka besar nanti. Saat mereka menerima luka parut yang terakhir, maka mereka diizinkan untuk menikah dan punya anak.

Oman

Wanita Oman senang menggunakan rebusan daun bunga mawar kering untuk mencuci rambut mereka. Air rebusan ini membuat rambut mereka wangi seperti wangi bunga mawar. Sementara untuk perawatan gigi, mereka memakai batang miswak untuk menyikat gigi. Unsur batang ini akan bereaksi dengan air ludah lalu membuat bibir berwarna oranye.

Selain itu, wanita Oman juga percaya bahwa semakin berwarna-warni perhiasan yang dikenakan, maka semakin cantik pula seorang wanita. Meski begitu, pakaian multi warna mereka kerap ditutupi oleh jubah bernama abaya yang menutupi baik tubuh maupun rambut.

Beberapa wanita juga memakai burqa yang menyelubungi wajah. Selubung itu sendiri merupakan tanda kecantikan yang diyakini bakal membuat mata kelihatan lebih seksi.

Minggu, 12 Desember 2010

Memahami Para Lanjut Usia

Mungkin banyak di antara kita yang saat ini punya orang tua yang sudah lanjut usia dan masih tinggal bersama-sama dengan kita. Kita bersyukur dan senang jika seringkali bisa mendengarkan pengalaman hidup mereka. Namun harus diakui, di sisi lain, kadang kita kewalahan atau menemui banyak kendala saat berhubungan dengan mereka.

Secara garis besar, seseorang dianggap lanjut usia sesudah ia berusia sekitar 60 atau 65 tahun ke atas. Usia tua memang ditandai oleh suatu proses yang sangat nampak dan bisa dilihat dengan jelas.

Yang paling nyata adalah perubahan-perubahan secara fisik yang menandakan menuanya diri seseorang. Misalnya, jalan yang tidak secepat dulu, daya tahan tubuh untuk menghadapi cuaca dingin semakin berkurang, tulang-tulang mulai rapuh, urat-urat saraf jadi kaku sehingga mereka tidak selincah orang yang masih muda.

Sementara itu, untuk kebutuhan emosional kaum lanjut usia menjadi lebih besar daripada kebutuhan jasmani mereka. Kebutuhan emosional para orang tua memang unik karena ada 2 golongan lansia, dan kebutuhannya otomatis akan sangat berbeda.

Yang pertama adalah mereka yang memang siap menerima fakta bahwa ia sudah lanjut usia. Maksudnya menerima fakta adalah menerima keterbatasannya, salah satu contohnya ialah pensiun. Jadi orang ini siap menerima konsekuensi usia tuanya.

Yang kedua adalah mereka yang memang belum siap memasuki usia tua, akibatnya ia tidak begitu siap untuk menanggung konsekuensi usia tua tersebut.

Salah satu hal penting yang harus kita mengerti adalah bahwa usia tua adalah usia di mana seseorang merefleksi diri ke belakang.

Seseorang akan mengalami suatu pertentangan antara integritas dan keputusasaan. Maksudnya, orang yang melewati usia-usia sebelum tua dengan baik, jauh lebih siap memasuki usia tua.

Tapi, orang yang melewati usia sebelum tua dengan tidak begitu mulus atau banyak problem, maka ia didapati kurang siap untuk memasuki usia tuanya.

Jadi kebutuhan emosional terpenting yang diperlukan orang tua adalah orang tua itu perlu bisa hidup tanpa penyesalan.

Orang yang lanjut usia akan bisa menerima hari tuanya dengan baik karena merasa hidupnya telah bernilai. Mereka tetap ingin merasa berguna.

Oleh karena itu, perlu bimbingan dan bantuan dari kita, untuk tidak hanya memahami mereka, tapi juga menolong mereka dalam melewati masa tua itu.

Bagi orang tua yang terbiasa bekerja, maka tidak ada salahnya jika mereka tetap melakukan beragam aktivitas yang mereka sukai, misalnya seperti berkebun, berolah raga, melukis, dan lain-lain.

Hal ini selain berguna untuk kesehatan mental mereka, juga dapat menyibukkan diri sehingga mereka tidak jatuh pada rasa kasihan pada diri sendiri, dan akibatnya melakukan hal yang bukan-bukan.

Hormatilah mereka dengan memahami dan membantu mereka.

Kamis, 09 Desember 2010

Kita Kaya Jika....

Kekayaan bukanlah kepunyaan mereka yang memilikinya namun kepunyaan mereka yang menikmatinya. Apakah Anda setuju dengan pernyataan di atas?! Coba renungkan beberapa kalimat berikut ini.

Kita tetap kaya jika sering naik mobil (macam-macam merek mobil lagi, dari yang butut sampai mewah), walaupun mobil-mobil itu mungkin bukan milik kita.

Kita kaya jika kita tidak punya rumah, namun kita kemudian diizinkan tinggal dan ditugasi menjaga sebuah rumah mewah.

Kita kaya jika kita bisa menikmati apa yang ada, sekalipun itu bukan milik kita.

Untuk menikmati keindahan sebuah taman, kita tidak perlu memiliki/ membeli taman itu. Untuk menikmati keindahan langit, kita juga tidak harus menggapai/ menyentuh langit.

Bagi kita yang diberi kesempatan untuk menikmati tanpa memiliki, maka boleh dikatakan kita beruntung dan mendapat kemurahan. Sebab ternyata tak semua orang yang memiliki, bisa menikmati apa yang mereka miliki.

Sebagai contoh seorang kaya raya, namun sakit-sakitan. Punya pesawat pribadi tapi tidak boleh terbang ke mana-mana, punya kolam renang tapi dokter bilang "tidak boleh berenang", punya rumah mewah, namun hanya boleh mendekam dan beristirahat di dalam kamar. Jadi percuma dong!

Jadi Anda sudah tahu kan mana yang lebih penting?! Memiliki atau menikmati.

Rasa memiliki mendorong seseorang pada rasa tidak puas dan ambisi yang lebih dan lebih lagi, sedangkan menikmati apa yang ada menjadikan seseorang memiliki mental puas dan nerimo. Sebab justru orang yang mudah puas, yang dapat menikmati apa yang ada padanya, lepas dari dia memiliki segalanya.

Jadi bagi kita yang tidak punya apa-apa, namun dapat menikmati apa yang ada, maka berbahagialah sebab sesungguhnya kitalah orang-orang kaya itu. Dan, ingat satu hal, keluarga juga merupakan kekayaan kita yang tak ternilai harganya. Berapa banyak orang yatim piatu di luar sana yang menginginkan sebuah keluarga. Jika saat ini Anda dianugerahi dengan keluarga yang ada, maka hargailah itu, sebab keluarga akan tetap menjadi keluarga.

Senin, 06 Desember 2010

Keinginan Yang Harus Dibunuh

Many have too much, but none enough. (Danish Proverb)

Pernah melihat orang yang punya banyak hal, namun masih saja tetap merasa tidak puas?! Baru membeli mobil ke-3, eh sekarang sudah mengincar mobil yang lain lagi. Ada juga orang yang hidupnya pas-pasan, namun tetap bisa puas dengan apa yang ada.

Lalu, apa sebenarnya yang membedakan keduanya?

Keinginan, itulah jawabnya.

Tak dapat kita pungkiri bahwa tiap manusia dilahirkan dengan bekal 'memiliki keinginan'. Namun, kita juga tahu bahwa tak semua keinginan itu bisa dicapai, sebab ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang atau kekuasaan.

Tak semua keinginan itu buruk adanya. Ada juga yang baik, seperti keinginan untuk hidup, keinginan untuk menjadi orang pintar dan sukses, keinginan untuk berbuat baik, dan sebagainya.

Namun, ada keinginan yang berbahaya bagi diri sendiri, keluarga, dan juga orang lain, karena bisa mengaktifkan sisi keserakahan kita sebagai manusia. Apa saja keinginan yang berbahaya tersebut?

Keinginan yang tidak membawa kebaikan

Contohnya adalah seseorang yang selalu ingin makan makanan berlemak. Meski lezat, namun keinginan itu bisa merusak kesehatan dan membunuh diri sendiri. Atau, keinginan untuk absen kerja di saat tidak mood. Bisa Anda bayangkan, apa jadinya bila bos tahu Anda absen hanya gara-gara tidak mood. Pastinya, Anda akan dipecat atau tidak dipercaya lagi.

Keinginan yang melampaui kemampuan

Anda pasti tahu apa yang dimaksud dengan ini. Seseorang bisa mengingini banyak hal namun jika itu melebihi kemampuannya, maka ia akan berhutang ke sana sini untuk memenuhi nafsu inginnya itu. Akibatnya, ia akan terjerat masalah utang yang bakal menyusahkan diri dan keluarga yang ada. Atau jika ini tidak menyangkut uang, maka keinginan tersebut akan membuat seseorang depresi karena ia tidak mampu mencapainya.

Keinginan akan milik orang lain

Yang satu ini bisa mengakibatkan yang namanya pencurian, penculikan, fitnah, hingga membunuh. Tak percaya? Coba saja lihat para perampok yang mengingini barang milik orang lain, atau seorang gadis yang rela berbuat nekat untuk merebut pacar temannya.

Pada dasarnya, sebuah keinginan dikatakan jahat bila itu sudah berada dalam jalur yang melebihi kebutuhan.

Saat Anda mulai dijangkiti dengan penyakit ingin 'ini dan itu', maka berhentilah sejenak dan renungkan, apakah hal tersebut memang sesuai dengan yang Anda butuhkan?!

Keinginan memang bisa bernafsu sepanjang waktu, namun ada satu cara untuk menaklukkannya, yaitu dengan mengendalikannya atau mematikannya. Dan untuk itu, kita perlu mengaktifkan 'alarm kebutuhan'. Dengan alarm ini, kita bisa mematikan segala keinginan yang menyesatkan.

Marilah kita belajar untuk menaklukkan keinginan-keinginan yang melampaui kebutuhan kita, supaya kita tidak menjadi orang yang serakah.

Jangan sampai demi memenuhi keinginan yang egois, kita jadi mengorbankan keluarga, diri sendiri, orang lain, maupun segala sesuatu yang berharga di sekitar kita. Waspadalah!

Jumat, 03 Desember 2010

Are U Drama Queen?

Apakah Anda asli Anda?! Mungkin pertanyaan ini sedikit menggelitik. "Tentu saja," jawab Anda mantap. Namun, benarkah demikian?! Kita akan menyelidikinya bersama-sama.

Kita hidup dalam zaman yang boleh dibilang tak kenal kompromi. Beberapa orang bilang hidup ini keras, dan demikianlah kenyataannya. Saking kerasnya, sampai hidup seolah tak mengenal lagi yang namanya belas kasihan.

Siapa yang tak cantik, jangan mimpi bakal dilirik. Siapa yang tak berduit, jangan mimpi bisa diterima dengan baik di hotel-hotel mewah. Intinya, jika Anda tidak punya apa-apa, maka jangan berharap bisa mendapat apa-apa.

Tuntutan ini boleh dibilang berlanjut turun temurun, sehingga akhirnya setiap orang berpacu untuk menjadi yang terbaik agar bisa mendapat yang terbaik.

Kaum wanita berlomba-lomba untuk menjadi yang terlangsing, terputih, dan tercantik agar mereka dilirik, dikagumi, bahkan disanjung-sanjung oleh kaum adam. Lalu, mereka mendapati bahwa jika mereka tidak dapat memenuhi tuntutan-tuntutan itu, maka mereka 'dinyatakan' tidak berharga lagi. Benarkah demikian? Tentu saja tidak. Namun sayangnya, ada golongan wanita yang mempercayai hal menyedihkan ini.

Akibat beragamnya tuntutan yang tidak masuk akal itu, banyak orang kemudian menjadi mayat hidup atau robot yang dikendalikan oleh 'apa yang seharusnya'. Mereka jadi lupa bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang sarat dengan kelemahan dan keterbatasan.

Mereka jadi takut tampil apa adanya. Mereka takut jika seorang pria memandang remeh, menolak, mengolok-olok, mengatai, dan tak mau menerima mereka apa adanya. Sehingga mereka pun kemudian terus bersikap 'yang seharusnya', bukan yang 'seadanya' mereka.

Apakah gambaran di atas merupakan cerminan diri Anda sendiri? Apakah selama ini, entah sadar maupun tidak, Anda telah bersikap yang seharusnya daripada yang seadanya?

Apakah Anda berani jujur mengaku bahwa tuntutan itu memang ada dalam hidup Anda, dan turut mempengaruhi perilaku dan keputusan-keputusan Anda?

Kalau mau jujur, setiap orang di dunia ini memakai topeng yang sama. Sebab kita semua memiliki ketakutan yang sama pula, takut ditolak, takut diabaikan. Takut jika kita tidak tampil cukup baik, maka kita akan direndahkan.

Namun, hidup macam ini adalah hidup yang melelahkan. Memakai topeng 'yang seharusnya' itu juga menyiksa. Lalu, harus bagaimana? Buka dulu topengmu, dan beranilah tampil apa adanya. Jadilah diri sendiri!

Jika saat ini Anda dikenal cerewet, maka ingatlah bahwa belum tentu besok Anda tetap sama. Jalani, lakukan, dan nikmatilah setiap proses perubahan yang ada dalam hidup Anda dengan tampil apa adanya. So, stop being a drama queen and start to be your ownself!