Kamis, 30 Desember 2010

Yang Penting Bukan Di Mana Kita

Tak peduli di mana seekor burung berada, entah di padang rumput atau dalam kurungan sangkar, ia dapat tetap bersiul bila ia mau. Saat merenungkan pemandangan burung dalam sangkar, kalimat bijak itu terlintas begitu saja dalam benak saya. Jadi, saya juga merenungkan maknanya.

Menurut yang saya dapatkan, gambaran tersebut bisa dipakai untuk mengungkapkan sebuah kebenaran tentang kebahagiaan, bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh keberadaan kita, bagaimana keadaan kita saat ini, atau pun hal-hal yang terjadi di sekitar kita, melainkan ditentukan oleh hati dan kemauan kita sendiri.

Seringkali kita meratapi nasib. Kita jadi hanyut dalam kesedihan yang rasanya seperti tiada akhir. Kita menyesali nasib kita. Kita meratapi keberadaan kita. Bahkan mungkin, kita kerap merasa kurang puas dengan apa yang sudah kita miliki.

Ibarat ilustrasi burung di atas, jika burung itu dibebaskan di padang rumput nan hijau, apakah keberadaannya pasti akan membuat ia bersiul? Belum tentu! Demikian juga sebaliknya, jika ia diletakkan dalam sangkar, apakah sangkar itu dapat membungkam keinginannya untuk bersiul? Tentu tidak!

Oleh sebab itu, maka kini saatnya bagi kita untuk berhenti meratapi diri. Saatnya bagi kita untuk bangkit dari yang namanya kesedihan dan rasa mengasihani diri sendiri. Saatnya bagi kita untuk mensyukuri apa yang sudah kita miliki dan meninggalkan rasa tidak puas. Kini saatnya untuk membuat keputusan baru. Sebab, jika kita tak mau bangkit dan mengusahakan kebahagiaan kita sendiri, lalu siapa lagi yang bisa menolong kita?

Kita memang tak dapat memilih jalan hidup kita, warna kulit kita, atau jati diri kita. Kita juga tidak dapat mengendalikan situasi yang terjadi di sekitar kita, namun entah kita hidup di padang rumput nan hijau atau dalam penjara sangkar sekalipun, kita masih bisa tetap bersiul dengan gembira bila kita mau.

Kuncinya hanya pada keputusan kita sendiri. Memang butuh kemauan dan disiplin untuk mengubah pola pikir lama. Namun, jika kita mau bertekun dan mengubah fokus, maka kita pasti bisa.

Jika dulunya kita selalu hidup dalam sakit hati, maka tinggalkan sakit hati itu. Ada sebuah ungkapan,"Orang bodoh dibunuh oleh sakit hatinya sendiri."

Maafkanlah pasangan Anda, anak Anda, kakak ipar Anda, mertua Anda, dan entah siapa lagi yang mungkin menyakiti hati Anda.

Jika kita sering menyusahkan diri karena rasa ingin tahu yang berlebihan tentang suatu hal, maka lepaskan keinginan atau rasa penasaran yang ekstrim itu. Tinggalkan kumpulan ibu-ibu yang doyan menggosip. Jangan berkecimpung di dalamnya sambil mengatakan bahwa Anda hanya akan menjadi pendengar saja.

Jika kita selalu memikirkan dan menyesali masa lalu, maka ingatlah bahwa hari kemarin berlalu semalam. Pertengkaran dengan suami atau anak yang pernah terjadi janganlah diingat-ingat lagi. Cemoohan dari keluarga suami pun sebaiknya dilupakan.

Ingat, keputusan di tangan Anda, Anda mau atau tidak untuk membuang hal-hal yang tidak berguna dan menyongsong masa depan cerah bersama orang-orang terkasih yang ada sekarang?!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar yang membangun aja yee....GBU