Inspirasi tidak hanya dapat diperoleh pada saat seseorang sedang jaya saja. Namun justru lebih banyak orang belajar dan mendapatkan sesuatu yang baru dan berharga dari masa-masa terkelam di hidupnya.
Salah satunya dari pengalaman salah mengenal dan memperlakukan diri sendiri. Hal ini terjadi akibat terciptanya citra diri yang salah, yang biasanya menimbulkan 2 reaksi yang berbeda yaitu minder atau sombong. Kali ini kita hanya akan membahas tentang minder saja.
Minder atau rasa rendah diri merupakan suatu duri yang bisa menghalangi seorang istri untuk mencapai potensi tertingginya. Aslinya cantik, namun karena minder, sehingga membuatnya merasa tidak cantik, dan hasilnya aura yang terpancar pun menunjukkan kecantikan yang terbunuh. Mestinya bisa berpenampilan ayu, namun karena minder, akhirnya merasa bahwa tampil cantik pun bakal sia-sia, sehingga akhirnya yang dikenakan sehari-hari hanyalah daster butut.
Banyak faktor yang membuat rasa minder itu muncul, bisa jadi dari pengalaman pahit yang dialami saat masa kecil dulu, olokan dari orang-orang sekitar, namun deretan alasan tersebut hanya bersumber dari satu hal saja yaitu adanya rasa tidak berharga.
Rasa tidak berharga ini kemudian mempengaruhi kepribadian dan pembawaan diri seseorang dalam berkeluarga dan bermasyarakat.
Minder ini sebenarnya sama jahatnya dengan sombong (merasa diri penting), karena keduanya memiliki makna yang sama, yaitu salah mengenal diri sendiri.
Berikut ada beberapa ciri di mana seseorang itu dikatakan minder. Apakah ada di antaranya yang menjadi bagian dari kepribadian Anda saat ini?
- Menempel terus pada orang lain, mungkin pasangan atau anak, karena takut ditinggalkan. Sayangnya, biasanya orang tersebut justru akan benar-benar mengalami apa yang ditakutkan, yaitu ditinggalkan. Siapa juga yang bisa tahan dengan orang yang hobinya nempel dan merepotkan terus?
- Selalu mencari orang lain atau mengandalkan pasangan untuk memperhatikan, untuk peduli terhadap apa yang dialami dan dirasakan, dan yang dapat memenuhi kebutuhannya.
- Sering merasa tak berdaya dan tak mampu membuat keputusan tanpa campur tangan suami. Istri macam ini sangat tergantung pada suami dan tak bisa berdiri di atas kaki sendiri untuk merasa bahagia.
- Berpikir bahwa dirinya tidak layak untuk dicintai, diperhatikan, dan dihargai oleh orang lain, dan juga percaya bahwa tak peduli seberapa besar usaha yang dilakukan, dirinya tetap tidak layak untuk itu. Hal ini menyebabkan timbulnya rasa suka mengasihani diri.
- Membiarkan pihak lain, misalnya ibu mertua, memimpin dan selalu berusaha menyenangkan orang lain agar tidak ditolak. Selalu mengutamakan kepentingan orang lain, bisa jadi karena merasa bersalah, minder, takut, sehingga mengorbankan diri sendiri.
- Terlalu memaksakan diri untuk selalu menjadi dan melakukan yang terbaik. Padahal sikap macam ini justru malah bisa membuat diri menderita, karena tidak bisa menjadi diri sendiri.
- Tidak mudah percaya pada kebaikan orang lain, karena menganggap bahwa bila orang lain bersikap baik maka itu karena ada maksud tersembunyi.
- Berpikir bahwa dirinya tidak mudah bergaul dan tidak bakal cocok dengan kelompok manapun. Ini bisa karena minder, namun bisa juga karena sombong.
- Percaya bahwa dirinya tidak akan pernah menjadi istri yang baik.
- Percaya bahwa dirinya tak sepintar orang-orang/ istri-istri lain.
- Kurang mendisiplin diri dan ingin menyerah saat mengalami kegagalan.
- Selalu mengalah untuk menghindari konflik.
- Mementingkan pendapat dan dukungan orang lain dan sering kali tampil wow hanya untuk mendapatkan perhatian.
- Lebih fokus pada hal buruk yang terjadi dalam hidup (kekecewaan, salah langkah, dan momen-momen memalukan) sehingga memungkinkannya hidup dalam ketakutan yang menyebabkan diri melakukan kesalahan-kesalahan lain yang bisa menimbulkan masalah baru seperti kehancuran finansial, misalnya.
- Takut untuk menunjukkan emosi atau memulai pembicaraan, mungkin dengan keluarga suami misalnya.
- Percaya bahwa kesalahan kecil sekalipun harus mendapat hukuman. Biasanya orang ini menuntut diri dan orang lain terlalu tinggi, sukar memaafkan kesalahan, sukar berempati baik pada diri maupun orang lain.
- Mungkin masih ada banyak lagi ciri-ciri lainnya. Lalu, bagaimana untuk menghadapi rasa minder itu? Ingat saja satu hal, bahwa Anda sama berharganya dengan orang lain. Jadi, para wanita, entah Anda sebagai anak atau istri, jangan pernah takut untuk menunjukkan diri Anda yang sebenarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar yang membangun aja yee....GBU