Sabtu, 22 Januari 2011

Tips Ibu Berhenti Khawatir

Sadar atau tidak, cerewetnya seorang ibu itu bermula dari rasa khawatir yang bercokol dalam dirinya. Karena cemas akan hal ini-itu, maka mulut mulai berbicara banyak, berulang-ulang lagi. Jadi, agar anak atau suami tak mengeluh karena kita terlalu sering khawatir maka ada hal yang mesti kita terapkan mulai sekarang. Apakah itu?

1. Fokus pada waktu sekarang

Sebuah ungkapan bijak mengajarkan pada kita untuk fokus pada apa yang ada di hadapan kita saat ini, bukan pada apa yang telah lewat atau yang belum terjadi. "Hiduplah untuk hari ini". Mengkhawatirkan masa lalu jelas tak ada gunanya sebab masa lalu tak bisa diubah lagi. Mencemaskan masa depan juga sia-sia sebab apa yang kita cemaskan belum tentu terjadi. Jika Anda harus membuat keputusan untuk Minggu nanti, maka tunggulah sampai hari itu tiba. Tak perlu bingung sekarang.

2. Kendalikan pikiran yuk

Tak mudah memang untuk fokus pada hari ini, sebab adakalanya kekhawatiran itu muncul begitu saja. Katakanlah Anda sedang asyik makan malam dengan teman lama, tiba-tiba Anda teringat akan kompor di rumah, "masih menyala atau sudah kumatikan ya?"

Jika ada kesempatan untuk memastikan, maka segera hubungi dan tanyakan pada orang rumah. Namun, jika tidak, maka segera putuskan, mau pulang untuk memeriksa atau menunggu hingga makan malam selesai. Kendalikan pikiran, jangan sampai omongan teman tak Anda gubris karena memikirkan kompor.

3. Semakin dipikirkan, semakin membesar

Pernahkah Anda memikirkan sebuah hal, awalnya kecil saja, hanya iseng-iseng memikirkan/ membicarakannya, namun semakin lama, entah bagaimana, hal itu malah menjadi masalah besar?

Hal inilah yang harus kita waspadai. Saat rasa cemas akan sesuatu hal muncul, maka kita punya 2 pilihan, meredamnya atau membuatnya bertambah besar. Tentu Anda tahu harus pilih yang mana bukan?

4. Tetapkan batasan

Sepanjang hari Anda khawatir tentang buah hati dan sekolah barunya. Si kecil mau berangkat, Anda khawatir. Saat dia masih berada di sekolah, Anda juga memikirkannya. Usai dia pulang, Anda masih penasaran dengan apa saja yang terjadi di sekolah. Mulai deh aksi tanya jawab detail dengannya.

Ibu, bagaimana bisa bekerja dengan maksimal kalau pikiran terus nyantol pada anak. Untuk menghadapi masalah ini, ada baiknya Anda mendisiplin diri sendiri. Tetapkan batasan bahwa Anda hanya boleh khawatir sebentar saja. Akhiri dengan doa, bila perlu, untuk menenangkan hati. Setelah itu, lanjutkan pekerjaan rumah tangga lainnya.

5. Tulis dan lihat

Anda boleh menuliskan hal-hal yang Anda khawatirkan, berikut berapa lamanya Anda mencemaskan hal tersebut. Coba lihat jurnal tersebut setiap minggunya dan perhatikan, ada berapa banyak dari kekhawatiran Anda yang menjadi kenyataan. Membaca jurnal ini akan membantu Anda melihat betapa banyaknya waktu terbuang sia-sia. Selain itu, Anda juga bisa sadar bahwa kecemasan selama ini tak pernah terjadi. Jadi, buat apa cemas?

6. Alihkan perhatian

Mencemaskan sesuatu itu adalah pilihan, dan Anda bisa memilih untuk tidak cemas. Terimalah kenyataan bahwa Anda memang cemas, namun katakan pada diri sendiri, "Oke, aku memang khawatir tentang masalah ini. Tapi, aku tidak mau cemas lagi. Toh tak ada lagi yang bisa kulakukan. Jadi, aku akan mengerjakan hal yang lain saja..."

Anda bisa mulai menghitung tagihan rekening, bermain scrabble bersama buah hati, ngobrol tentang mode pakaian terbaru bersama ibu, atau lainnya. Sibukkan diri Anda dengan hal-hal yang lain.

7. Ingat, Anda bukan Tuhan

Anda manusia biasa yang tak bisa mengendalikan semua hal. Jadi buang jauh-jauh pemikiran, "Jika hal itu terjadi, maka aku akan begini-begitu". Kenyataannya, Anda tak tahu apa yang akan terjadi 5 menit lagi, jadi mari kita berhenti berperan sebagai Tuhan.

8. Orang lain bisa susah karena kekhawatiran kita

Mulailah seseorang masuk dalam tahap cerewet dalam hal ini, yakni saat ia membiarkan rasa khawatir menguasai dan meracuni orang lain juga. Cemas anak jatuh dari sepeda membuat Anda mengatur sedemikian rupa gerak-geriknya saat belajar agar dia tak sampai jatuh. "Please deh! Mana ada orang belajar sepeda tanpa jatuh?"

Berhenti ya ibu-ibu mulai sekarang. Lepaskan kendali, berhenti memanipulasi dan mengatur kehidupan orang lain atas nama 'demi kebaikanmu sendiri'. Setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri, jadi biarkan puteri Anda mencuci piring dengan caranya sendiri. Yang penting piringnya bersih dan tidak pecah kan?

9. Tahan imajinasi Anda

Kebanyakan rasa khawatir dikompori oleh imajinasi kita sendiri. Jadi, ada baiknya Anda memberdayakan imajinasi dengan baik, bukan untuk melawan Anda. Pikirkan hal-hal yang positif, sedap didengar, dan baik adanya. Bayangkan situasi yang baik dan menyenangkan. Optimis dong!

10. Latihan terus...

Oke, Anda sudah tahu langkah-langkah tepat untuk membasmi rasa khawatir dan membungkam mulut cerewet. Kini saatnya untuk praktek. Butuh latihan dan ketekunan. Butuh kemauan keras untuk menolak cemas. Anda bisa karena practise makes perfect.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar yang membangun aja yee....GBU