"Dia punya gelang cantik, aku tidak punya. Rumahnya juga bagus walau tidak terlalu besar. Hmm, belum lagi lesung pipitnya itu, membuatnya tampak makin manis saja. Pantas saja, dia bisa mendapat suami yang ganteng..."
Pernahkah Anda mendengar komentar semacam itu. Komentar yang diucapkan dengan nada lirih dari mulut seorang wanita saat bicara tentang wanita lainnya.
Bahkan mungkin, komentar sejenis pernah meluncur keluar dari bibir Anda. Hati-hati! Tanpa sadar, jika hal tersebut memang pernah ada, bahkan jika hanya dalam pikiran saja, maka itu berarti perasaan iri telah bersarang dalam diri Anda.
Perasaan iri akan mengajak Anda untuk menghitung apa saja yang dimiliki tetangga dan Anda bahkan boleh dibilang melupakan apa yang Anda miliki.
Iri membesarkan 'kekayaan' orang lain daripada milik Anda sendiri. Iri membuat Anda menyoroti apa yang dimiliki orang lain yang tak Anda miliki. Iri membuat Anda jatuh pada perasaan kasihan pada diri sendiri.
Iri merenggut sukacita dan kepuasan Anda terhadap keadaan Anda dan keluarga. Bahkan, ada yang mengklaim bahwa rasa iri mampu membusukkan tulang (simbol kekuatan) seseorang.
Setiap orang pasti pernah merasa iri dengan orang lain. Namun, tidak setiap orang menetap dalam rasa iri tersebut. Itulah yang membedakan orang yang mudah puas dengan orang yang tidak pernah puas.
Jika kita tahu bahwa rasa iri hanya menempatkan kita pada efek-efek yang merugikan, lalu mengapa kita tetap iri?
Lalu, bagaimana agar kita bisa segera melepaskan diri dari rasa iri? Gampang saja, tinggal ubah fokus kita.
Mulailah menghitung hal-hal positif yang kita miliki, dan mulailah mensyukurinya. Keluarga kita, suami kita, anak-anak kita, rumah, pekerjaan, dan sebagainya yang kita miliki. Jangan terus fokus pada hal-hal negatif atau kelemahan-kelemahan yang kita miliki.
Mungkin hidung kita tak semancung nyonya depan rumah, namun kita ternyata memiliki mata yang indah dan berbinar yang selalu dikagumi pasangan. Atau, setidaknya kita harus bersyukur karena dengan hidung 'pas-pasan' itu kita masih bisa menghirup udara dengan bebas.
Di samping berfokus pada apa yang kita miliki, kita juga harus melihat 'ke bawah' daripada ke atas. Maksudnya, pandanglah orang-orang yang memiliki keterbatasan, misal orang-orang kurang mampu, cacat, yatim, dan lain-lain.
Tanpa bermaksud merendahkan mereka, kita bisa belajar bersyukur atas apa yang kita miliki jika kita memandang pada 'si miskin' ketimbang 'si populer'.
Sadarilah juga bahwa tiap orang dan keluarga berbeda. Secantik-cantiknya seseorang, ia pasti memiliki kekurangan juga. Sekaya-kayanya seseorang, pasti ada hal yang membuatnya susah juga. Tiap keluarga pasti memilik persoalannya sendiri-sendiri.
Jadi berhentilah iri! Sebaliknya, syukurilah keberadaan kita. Terimalah diri Anda agar Anda bisa tampil bahagia, karena ekspresi iri dan bahagia tidak dapat berjalan beriringan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar yang membangun aja yee....GBU